Cara Asah Jiwa Wirausaha Anak Bagian 2

2. Lakukan praktik langsung. Yang paling sederhana adalah dengan mengikutkan anak dalam bazar sekolah. Namun tak sekadar ikut, ia perlu memetik pelajaran yang lebih bermakna. Bahwa sebelum berjualan, anak perlu menyeleksi dagangannya. Minta anak menentukan sendiri; apakah ia ingin menjual barang bekas namun masih berguna atau membuat prakarya yang menarik untuk dijual.

Tugas kita adalah menjelaskan kelebihan dan kekurangannya. Setelah anak membuat keputusan, ajak ia berdiskusi tentang bagaimana ia bisa mendapat modal. Tawarkan jalan keluar dengan memanfaatkan pinjaman dari kita yang harus dikembalikan setelah barang terjual. Ajak anak menentukan harga. Beri ia inspirasi cara mengemas dagangan agar menarik, menentukan teknik promosinya, menata barang, dan sebagainya. Dengan “merasakan” bagaimana pengusaha bekerja, anak akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga.

3. Belajar mengelola keuangan sendiri. Di usia 6-8 tahun umumnya anak sudah mendapat uang jajan harian yang bisa ia gunakan untuk jajan dan sisanya ditabung. Uang jajan mingguan umumnya baru diberikan pada anak-anak SD lebih besar (9-12 tahun). Bimbing ia untuk mengelola uang jajan itu; berapa jumlah untuk jajan setiap hari, berapa yang untuk disumbang, ditabung, dan lainnya. Dari sini setidaknya ia belajar bagaimana agar uang tersebut bisa digunakan hingga 1 minggu ke depan.

4. Perkenalkan kisah sukses wirausaha. Kita bisa belajar dari Mas Mono penjual ayam bakar, Setyajid pemilik ayam goreng d’Besto, Susanti Alie yang sukses menjual saus sambal, dan lainnya. Untuk pengusana berskala internasional pengalaman Bill Gates, Larry Page, Sergey Brin, atau Mark Zuckerberg, sangat menarik untuk dipetik. Cerita yang penuh inspiratif ini akan menguatkan hasrat anak menjadi seorang usahawan sukses.

5. Manfaatkan keahlian. Apakan buah hati memiliki keahlian? Menggambar, membuat prakarya, menulis indah? Coba diskusikan agar ia bisa lebih serius menciptakan karya dan menjualnya. Bisa jadi awalnya ia tak percaya diri. Namun bantuan dan pendampingan dari kita bisa memotivasinya. Gunakan hasil penjualannya untuk kebutuhan anak; membeli sepatunya, baju, atau mainan, sehingga ia lebih bersemangat dalam menghasilkan karya yang lebih baik. Tentu kegiatan ini jangan sampai mengganggu aktivitas belajarnya.

Berikut ini adalah informasi mengenai rekomendasi lembaga kursus TOEFL IBT Jakarta terbaik.