Hidup Harus Dapat Bermanfaat Untuk Banyak Orang

Gerakan Bandung Cinta Keluarga

Saat akan mewawancarai Atalia Kamil (41), teman-teman yang pernah bertemu dengan wanita kelahiran Bandung ini, selalu berkomentar. ”Dia cantik banget, keren…!” Ternyata itu tidak meleset. Kami berjanji temu di salah satu kafe di kawasan Kuningan. Datang dengan setelah hitam dikombinasi bolero motif bunga dan jilbab berwarna senada, Atalia menyapa ramah. “Apa kabar?” “Baik Mbak, hmmm aduh enaknya panggil apa ya?” tanya saya. “Teteh atuh… kan orang Bandung…” jawabnya dengan logat Sunda yang kental.

Baru akan memulai obrolan, seseorang wanita menegurnya, Atalia menjawab ramah. “Iya… nih lagi ngadongeng. Ditanya satu… jawabannya mah banyak…” Istri walikota Bandung Ridwan Kamil (43) ini lalu mulai “ngadongeng” tentang Gerakan Bandung Cinta Keluarga (GBCK) yang giat ia kampanyekan. GBCK berawal dari keprihatinan akan kekerasan pada anak yang kembali marak belakangan ini. “Ini program edukasi tentang pola pengasuhan yang tepat. Pemerintah pusat memberikan keleluasaan pada kami untuk melakukan kampanye dengan cara lebih ­ eksibel, lebih berinovasi, lebih kreatif,” jelasnya.

Upacara Senin untuk Edukasi

Salah satu cara kreatif yang ditempuh Atalia, selain dengan seminar parenting, adalah memanfaatkan upacara hari Senin di sekolah-sekolah sebagai ajang edukasi pada para remaja. “Setiap kali upacara ada sekitar 1.500 anak. Di situ saya akan menyampaikan berbagai isu hangat. Masalah seks bebas, misalnya. Mungkin kita risih membicarakan ini, tapi ini harus.

Saya sampaikan patokan dasar agar mereka tidak terjerumus seks bebas, yakni mereka harus menjaga 4 titiik di area tubuhnya; mulut, dada, alat vital, dan bagian belakang (bokong).” “Menurut saya ilmu parenting tidak hanya perlu disampaikan pada ibu atau ayah saja, tapi juga pada anak-anak. Saat ini saya sedang mencari kegiatan yang bisa menyatukan ayah, ibu, dan anak agar dapat menimba ilmu parenting bersama.”

Tak Ingin Halalkan Segala Cara

Soal anak sulungnya, Eril, Atalia punya cerita menarik. “Anak sulung saya tahun ini masuk SMA. Banyak yang bilang bahwa Eril tak perlu bersaing untuk masuk SMA negeri karena Kang Emil tinggal menelepon, semua akan beres. Tapi kami tidak lakukan itu.” “Saya jelaskan pada Eril bahwa saya dan Kang Emil tidak bisa membantunya masuk SMA negeri, jadi ia harus berusaha sendiri. Alhamdulillah nilainya cukup dan Eril berhasil masuk SMA negeri yang ia inginkan. Kenapa kami mengambil langkah itu? Karena kalau anak tahu bahwa orangtuanya melakukan cara-cara buruk demi kebaikannya, suatu saat anak pun bisa menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya.

Kami enggak mau itu. Di masa depan, anak akan lepas dari kita. Nah, pada saat itulah pendidikan keluarga penting untuk menuntun mereka selalu berada di lingkungan yang positif.” Atalia mengakui sebagai orangtua ia tidak sempurna karena itulah ia terus belajar. “Belajar menjadi orangtua yang baik itu tidak pernah berhenti, sampai kapan pun. Karena itulah edukasi parenting seperti yang dilakukan GBCK selalu dibutuhkan orangtua. Saya berharap Gerakan Bandung Cinta Keluarga bisa didukung oleh semua pihak.”

Berikut ini adalah informasi lebih mengenai tempat terbaik belajar bahasa Jerman di Bandung.